Monday, December 18, 2006

Jesus - Dah inta habeebi wi monaya illi dawibni

There have been many talks, books and other writing works discussing about Jesus. These were in the forms of documentary on television, novels, and discussions on churches during masses. Last night I watched this TV program called “Is It Real?” by National Geographic Channel. They were discussing about a book titled “Da Vinci Code” written by Dan Brown.

This book reveals the secret that has been kept by church for more than 2,000 years. The secret was that actually Jesus married to Mary Magdalene and the daughter from Jesus’ seed married to a royal from France. Yet, in the end of this show, it was emphasized that this book is merely a fiction though there have been evidences yet evidences are not enough since it depends on individuals’ interpretation to the evidences. But, I will not talk about that. I won’t bother if Jesus married to Mary Magdalene or not or whether Mary Magdalene gave birth to a daughter which leads to understanding that one of us might bear Jesus’ blood in us.

I want to talk about the painting of Last Supper, painted by Da Vinci that appeared in the novel. It was discussed that the person sitting on the right hand side of Jesus is not Saint John but Mary Magdalene. Though there were still some arguments that actually it was Saint John since the renaissance paintings of Saint John seemed to reveal Saint John as young feminine man with long curly hair.

There are many versions of Last Supper. One of them was what I found in a church in Medan .
It’s a catholic church with strong Indian culture touch. The Last Supper is quite unique and interesting since they are sitting on the floor.





















Another side of Jesus that National Geographic Channel discussing was which part of his hands that got nailed. Most described it as on the bed of his palms and seemed to be confirmed by some unexplainable stigmata that some people got. It even appeared on the crosses across the world.


But, NGC argued that and was assured that actually Jesus was nailed on his wrist since his palms won’t be able to bear the weight of his body. They even conducted a test using a dummy with the weight of a human on Jesus’ age when he’s crucified. Interestingly it was also found in this church.




But above all, allow me to say, “Jesus, Dah inta habeebi wi monaya illi dawibni”.
pictures taken by writer in Medan, 11 December 2006






Survival Mechanism - A reminder

A survival mechanism is an ideology, a set of principles which lead from abstract doctrines to concrete actions. I use the word mechanism deliberately, to reinforce the notion of a process. For our nation to survive, it must work for its survival, it must engage in mechanical actions geared towards enhancing the survival of its people. These actions are dictated by the ideology, i.e., the survival mechanism. www. aina.org/aol/peter/survival.htm

Banyak orang yang ketika terancam bahaya,
Berusaha menjadikan gunung,
Berusaha menjadikan hutan dan padepokan,
Juga tempat pemujaan sebagai perlindungan.
Akan tetapi itu semua,
Bukanlah suatu perlindungan yang aman,
Juga bukanlah suatu perlindungan yang utama.
Dengan bergantung pada perlindungan semacam itu,
Tidak akan membebaskan seseorang dari penderitaan!
(Dhammapada XIV, 188 - 189)


Seseorang yang berlindung kepada,
Buddha, Dhamma dan Sangha,
Akan memahami kebijaksanaan sempurna, yaitu:
"Empat Kebenaran Mulia"
Empat Kebenaran Mulia itu adalah:
- Adanya dukkha
- Penyebab dari dukkha
- Terhentinya dukkha
- Jalan Tengah untuk menghentikan dukkha.
Itulah perlindungan yang aman dan utama,
Dengan bergantung pada perlindungan semacam itu,
Seseorang akan dapat terbebas dari penderitaan.
(Dhammapada XIV, 190-191-192)

Wednesday, December 13, 2006

give and take

There was a containing-of-two-word saying and that's take-and-give. It was often mentioned on meetings, presentations and discussions. Then people started to argue why “take” was put first instead of “give”. Take and give obviously gave a negative meaning. It’s suggesting ones to take advantages or be served or to beg for others’ kindness first. After that, you can give a hand or advantages to others.

So, now it’s changed to “give and take”. I remember when I was a kid and I did not really bother about what my friends had been doing. As I grow older, which I do not know if I am growing wiser as well or not, I realize that I spent more time with my friends instead of my family. They have been painting my life. They shared experiences, ideas and suggestions to me. They always want me to get the best. They suggested me to choose and even helped me making choices and decisions. Once, there’s a friend in my university who’s always there during my ups and downs. She loved cooking and sharing things. Sometimes when I was running out of money, she often called me to join her lunch or dinner. She’s also a good listener. She could listen to my complaints and troubles for hours. Though we sometimes fought, there’s always turning to be fine. When I could not think, she would find the solution and I voluntarily took the idea and got away with it.
Well, friends come and go. My recent friends have other techniques in helping me out to get the best thing for my self. They asked me questions for me to getting into my own solutions. Coz, they believe that I actually have the solutions already. At the same time, I am now also at the time where I sometimes feel alone yet in the pathetically cheering and fluctuative cheering crowds. I am in the position of being confused on everything and confusing for everyone.

From that point, I decide to go with give and take. I kept talking to occupy people in discussion though I had to repeat the same old stories and dry jokes for many times. I just want them to smile and always feel happy (nonsense isn’t it?!). Smiling and cheering is a couple of examples and signs that you are alive, right?!

“Screaming is a good sign; we need to worry more when people don’t scream when they’re injured” (Basic First Aid Training, 13th December 2006)

I want to keep giving because I have been giving a little and hardly ever give. Once you give, it gives you a great feeling and seems like there’s warm water flowing into your heart and stomach. Once you give, automatically you take or get something though it’s from yourself and that’s the great feeling, warm heart and warm smile on your face.

Empat pokok kekuatan simpati,
- murah hati
- berbicara ramah
- berbuat kebajikan
- memperlakukan semua orang secara sama

Murah hati yang terbaik adalah, murah hati dengan Dhamma.

Berbicara ramah yang terbaik adalah membabarkan Dhamma.

Kebajikan yang terbaik adalah membangun keyakinan ke mereka yang tak percaya.

Perlakuan yang terbaik adalah memperlakukan semua orang secara sama.

Inilah yang dinamakan kekuatan simpati terbaik.

(Anguttara Nikaya IV, 62)

Om Ma Ni Pad Me Hum – for my Maya and a bunch of thanks to Tanti for the birthday e-card. I really wish that I could give more because I love the sensation after that.

Tuesday, December 05, 2006

Isteri juga manusia!!!!! !!!!!!!!! !!!!!!!!! !!!!!!!!! !!!! by Sarah Serena, SH. MH( Women’s Lawyer For Equal Rights In Justice )

ISTERI JUGA MANUSIA
Oleh :
Sarah Serena, SH. MH( Women’s Lawyer For Equal Rights In Justice )

Berbicara soal hukum, maka ditemukan suatu pemahaman bahwa hukum di gunakan untuk mengatur masyarakat. Masyarakat ini terdiri dari berbagai macam suku, agama, adat dan ras, yang mengikatkan dirinya dalam suatu organisasi bersama yang besar, yakni Negara. Namun demikian, seringkali ketika hukum diterapkan dalam suatu negara berbenturan dengan hukum agama atau adat yang berlaku. Yang mana pada umumnya, yang dipakai adalah hukum yang dianggap paling menguntungkan bagi masyarakat yang terlibat didalam persoalan hukum tersebut. Akan tetapi, meskipun hukum itu menganut asas “ Equity before the law” atau persamaan di dalam hukum, namun dalam prakteknya, perempuan dalam lingkup keluarga tetap saja berada di pihak yang kalah, terutama apabila secara ekonomi dia tergolong kategori tidak mampu.

Lahirnya Undang-undang Kekerasan Dalam Rumah Tangga No.23 Tahun 2004 yang mengatur mengenai kekerasan dalam rumah tangga, sebenarnya ditujukan untuk melindungi kaum perempuan dalam lingkup keluarga. Halmana sebelum undang-undang ini lahir, kasus kekerasan terhadap perempuan yang terjadi dalam lingkup keluarga, seringkali dianggap sebagai masalah privat bukan masalah publik. Sehingga menimbulkan banyak korban berjatuhan. Hal ini sangat controversial bila dikaitkan dengan tujuan hukum yang bukan hanya menangani kejahatan tetapi juga pencegahan kejahatan. Pencegahan kejahatan dilakukan sebelum terjadinya kejahatan, dimana seharusnya pihak tertangga terdekat melaporkan kepada pihak berwajib apabila ada tetangganya sedang bertengkar antara suami dan isteri sebelum salah satu pihak khilaf dan melakukan tindak kejahatan seperti penganiayaan atau pembunuhan seperti yang sering terjadi. Namun, kasus kekerasaan dalam rumah tangga tersebut justru baru dilaporkan kepadapihak berwajib apabila salah satu pihak ditemukan telah meninggal dunia. Hal ini sama sekali tidak mencerminkan adanya upaya hukum untuk mencegah kejahatan terutama dalam lingkup keluarga.

Berbicara mengenai Undang-undang Kekerasan Dalam Rumah Tangga No. 23 Tahun 2004, didalamnya diatur salah satu pasal mengenai penelantaran rumah tangga, yakni pasal 9. Dimana pasal ini mengatakan bahwa :

“ Setiap orang dilarang menelantarkan orang dalam lingkup rumah tangganya, padahal menurut hukum yang berlaku baginya atau kerena persetujuan atau per-janjian ia wajib memberikan kehidupan, perawatan atau pemeliharaan kepada orang tersebut”. Penelantaran sebagaimana dimaksud juga berlaku bagi setiapyang mengakibatkan ketergantungan ekonomi dnegan cara membatasi dan /ataumelarang untuk bekerja yang layak di dalam atau di luar rumah sehingga korbanberada dibawah kendali orang itu (ayat 2).

”Berkaitan dengan pasal tersebut diatas, jika dianalisis secara sosial, maka pada umumnya yang menyebabkan terjadinya penelantaran rumah tangga karena adanya “Poligami”, sebagaimana dalil yang selalu digunakan oleh para kaum lelaki yakni Surat An-Nissa ayat 3 yang dalam terjemahannya mengatakan sebagai berikut :

“ Dan jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil terhadap (hak-hak) perempuan yang yatim (bilamana kamu mengawininya) , maka kawinilah wanita-wanita (lain) yang kamu senangi: dua, tiga, atau empat. Kemudian jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil, maka kawinilah seorang saja, atau budak-budak yang kamu miliki. Yang demikian itu adalah lebih dekat kepada tidak berbuat aniaya.”

Dalil yang sering digunakan oleh para lelaki hidup belang ini secara tidak langsung telah menjadi factor terbesar penyebab terjadinya penelantaran rumah tangga. Para kaum patriaki beranggapan bahwa poligami dibolehkan dalam ajaran agama Islam, asalkan bisa berlaku adil. Padahal kenyataannya tidak demikian. Ada dua contoh kasus yang akan saya kemukan dalam tulisan ini, yaitu kasus tina (bukan nama sebenarnya) di kemandoran, Jakarta Barat dan Kasus Rokiyah (Bukan nama sebenarnya) dikawasan Bintara, Bekasi Barat.

Kasus Tina:

Tina bekerja dirumah majikannya dikawasan depok. Majikan tersebut mempunyai anak laki-laki bernama MM. Tatkala itu usia Tina masih muda belia demikian pula dengan MM. Namun demikian, MM pernah menikah sebelumnya dengan wanita lain dan memiliki seorang anak. Akan tetapi, anak tersebut ikut ibunya. Seusai bercerai dari isteri pertamanya, MM merasa kesepian. Entah mengapa, ia tertarik dengan Tina yang masih muda belia. Akhirnya terjadilah hubungan yang diharamkan oleh Agama Islam, dimana Tina menjadi hamil. Karena hamil, Tina memberanikan diri untuk meminta pertanggungjawaban dari MM. Karena malu, dengan lingkungan sekitar akhirnya mereka menikah dibawah tangan. Awalnya Tina dan MM hidup bahagia, namun setelah anak kedua lahir, sikap MM mulai berubah. Ia tertarik oleh seorang gadis SMP yang bernama DM. Dimana ketertarikan ini bak gayung bersambut, hubungan mereka semakin dekat setiap harinya. MM semakin jarang pulang kerumah. Kalau pulang kerjanya hanya mabok-mabokan danmemukul Tina. Hal itu terus berlangsung hingga pernikahan MM dengan DM. Tina diikat didalam kamar Mandi oleh MM. dan kuncinya dibawa pergi. Setelah pernikahan dengan DM, tina tidak pernah lagi mendapatkan nafkah dari MM bahkan untuk biaya sekolah anak-anakyna, DM tidak pernah memberi, padahal statusnya masih beristrikan MM. Sementara DM, merasa lebih berkuasa dari Tina dari ia dinikahi secara sah oleh MM dengan didaftarkan pada KUA. Berulang kali, Tina minta dicerai oleh MM, tetapi yang ada MM hanya marah dan memukuli Tina sambil berkata bahwa seumur hidupnya dia tidak akan pernah menceraikan Tina. Ini suatu tindakan yang ironis mengingat MM, tidak pernah memberikan nafkah lahir dan bathin kepada Tina dan anak-anaknya sejak ia menikah lagi dengan DM.

Kasus Rokiyah (bukan nama sebenarnya)

Rokiyah adalah janda anak tiga yang kawin dengan seorang jaksa yang telah beristri dengan delapan orang anak. Ia hidup sebagai isteri kedua, dengan anak 7 orang, (dua dari suami pertama, lima dari suami kedua). Semasa suaminya hidup, ia memang bahagia. Suaminya membagi jadwal hari Senin-Jumat, dirumah Isteri pertama, sedangkan hari Sabtu-Minggu dirumah isteri kedua. Bagi dia, hal itu tidak terlalu bermasalah, asalkan suaminya tetap memberikan uang agar asap dapur tetap mengebul. Namun tidak demikian, bagi anak-anaknya. Mereka kehilangan kasih sayang seorang ayah yang seharusnya. Terlebih lagi seorang anak laki-laki yang butuh lebih banyak bimbingan dan masukan dari seorang ayahnya. Karena karakter seorang anak laki-laki dibentuk oleh ayah yang mendidiknya. Karena terlalu letih melayani kedua isteri, hubungan antara ayah dan anak seringkali tidak harmonis. Akhirnya membawa anak lari kedunia hitam. Mengetahui sang anak terbawa arus menyebabkan sang ayah jatuhsakit dan menemui ajal. Selepas kematian suaminya, rokiyah tidak mendapatkan warisan apapun dari suaminya kecuali rumah yang ditinggali olehnya selama ini. Uang warisan dari hasil kerja suaminya hanya diberikan oleh pihak kantor kepada isteri pertama, karena mereka hanya mengakui isteri pertama tidak isteri kedua karena status suami rokiyah adalah pegawai negeri yang terikat dengan PP No.10 Tahun 1961 tentang larangan kawin bagi PNS. Akibatnya hidup rokiyah dan anak-anaknya menjadi berantakan.

Jika dilihat pada dua kasus diatas, maka dapat dilihat bahwa poligami tidaklah seindah seperti yang dibayangkan orang. Awalnya memang indah, namun seiring dengan perjalanan waktu hal itu akan membawa masalah yang rumit bagi keluarga. Para isteri yang dimadu senantiasa dikenankan dengan alasan yang ditulis dalam Surat An-Nisa ayat 129. Mereka seakan-akan tidak mempunyai pilihan selain pasrah dan terima nasib. Padahal Allah memberikan mereka pilihan. Hal ini diatur didalam Surat An-Nissa ayat 130 yang terjemahannya mengatakan sebagai berikut :

“ Jika kedua-duanya bercerai, maka Allah akan memberikan kecukupan kepada masing-masingnya dari limpahan karunia-Nya. Dan adalah Allah Maha Luas (Karunia-Nya) lagi Maha Bijaksana.”.

Ayat ini menunjukkan betapa Allah tidak mengharamkan perceraian jika memang itu menjadi pilihan dari pasangan suami-isteri, bahwa Allah menjanjikan limpahan karunia yang cukup setelah perceraian itu terjadi. Disinilah, dapat kita lihat betapa cintanya Allah kepada hamba-hambanya yang selalu mendekatkan diri kepada Allah. Terlebih lagi Allah mengetahui bahwa manusia itu tidak bisa adil, sebagaimana yang dikatakan dalam ayat 129 yang terjemahannya mengatakan sebagai berikut :

“ Dan sekali-kali kamu tidak akan dapat berlaku adil diantara isteri-isteri (mu), walaupun kamu sangat ingin berbuat demikian”.

Allah mengetahui sifat manusia yang fana bahwa manusia tidak pernah akan bisa bersikap adil karena keadilan bukan dari bagaimana memberikan seragam yang sama kemanapun pergi, uang jatah belanja yang sama, rumah yang sama, mobil yang sama. Akan tetapi keadilan, adalah bagaimana melakukan suatu perbuatan tanpa ada orang yang merasa terluka atau dilukai. Manusia mungkin bisa berkata-kata bahwa hatinya tidak terluka, namun Allah Maha Mengetahui apa yang tidak diketahui oleh manusia.

Oleh karena Allah mengetahui manusia tidak akan pernah bersikap adil, maka Allah menurunkan ayat 130, bahwa allah akan tetap melimpahkan karunianya meskipun isteri tersebut telah berpisah dari suami. Ayat ini menegaskan bahwa para isteri yang tidak mau dimadu, tidak perlu takut untuk mengambil keputusan untuk bercerai karena allah menjanjikan limpahan karuniaya, meskipun tidak lagi bersuami. Karena Allah Maha Mengetahui apa yang tidak diketahui oleh Manusia.

Al-quran Nur Karim sangat melindungi kaum perempuan bukan melemahkan kaum perempuan. Al-quran diturunkan oleh Allah SWT untuk mengangkat derajat dan martabat perempuan. Akan tetapi, sungguh disayangkan penafsiran Al-qur’an seringkali ditafsirkan secara sepotong-sepotong tidak secara keseluruhan, sehingga menimbulkan kesan bahwa kedudukan perempuan dalam agama Islam adalah lemah dibandingkan lelaki, padahal kenyataanya tidak demikian. Para Alim Ulama, seharusnya dalam menyebarkan agama Islam, tidak boleh mengambil ayat-ayat al-qur’an secara sepotong-sepotong karena itu bisa membahayakan nasib umat dalam hal ini kaum perempuan sebagai isteri. Penggunaan ayat oleh alim ulama, yang menyatakan bahwa “Allah membenci perceraian”, tidak diikutkan dengan ayat yang lain yakni ayat 130 surat An-NISA dimana allah menjanjikan limpahan karunia terhadap isteri yang memang mengajukan cerai karena dirinya tidak ingin dimadu.

Perkawinan adalah ikatan lahir bathin antara seorang pria dan wanita sebagai suami isteri dengan tujuan membentuk keluarga (rumah tangga) yang bahagia dan kekal berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa (Pasal 1 Undang-undang Perkawinan No.1 Tahun 1974). Ikatan lahir dan bathin ini menimbulkan suatu kewajiban dimana menurut agama Islam dalam Surat An-Nissa ayat 34 dalam terjemahannya dikatakan bahwa :

“Kaum lelaki adalah pemimpin bagi kaum perempuan , karena Allah telah melebihkan sebagian mereka (laki-laki) atas sebagian yang lain (wanita), dan karena mereka (laki-laki) telah menafkahkan sebagian harta mereka. Sebab itu maka wanita yang shaleh, ialah yang ta’at kepada Allah lagi memelihara diri dibalik pembelakangan suaminya oleh karena Allah telah memelihara mereka”.

Jika dilihat dari ayat ini, kewajiban suami adalah mencari nafkah sebagai kepala rumah tangga, sedangkan kewajiban isteri adalah menjaga kesuciannya. Namun dalam kenyataannya, status suami sebagai kepala rumah tangga seringkali disalah gunakan oleh yang bersangkutan. Suami yang merasa berkecukupan, seringkali gonta ganti pasangan atau menikah lagi. Hal ini menyebakan, tidak sedikit isteri yang penyakit kelamin akibat perbuatan suaminya yang suka berganti-ganti pasangan. Poligami secara tidak sadar membahayakan kesehatan para isteri dan juga mempengaruhi kesehatan anak. Sah atau tidak disahkannya Poligami itu tetap membawa penyakit. Terlebih ada para suami yang menyukai mengkoleksi isteri selayaknya boneka mainan. Isteri dijadikan boneka hidup untuk menunjukkan kepada masyarakat khalayak setinggi apa status sosial yang dimiliki oleh suami tersebut. Semakin tinggi kedudukan suami, semakin banyak isteri yang dimiliki dengan alasan dibolehkan dalam agama. Isteri seakan-akan dipaksa untuk menyerah dalam kebisuan panjang, yakni “Menjaga Nama BaikKeluaga”.

Tanpa disadari, dengan memperbanyak isteri selayaknya boneka mainan para suami terjebak oleh nafsu dunianya. Nafsu untuk memiliki isteri yang diinginkan dan nafsu untuk menunjukkan pada masyarakat umum tentang status kedudukan sosial yang dimilikinya. Hal ini diperparah dengan adanya budaya yang mendukung perbuatannya. Sebagaimana halnya budaya Jawa. Budaya ini menganggap bahwa isteri adalah belahan jiwa suami, yang harus tunduk dan taat pada suami. Penundukkan isteri terhadap suami menunjukkan bahwa isteri merupakan properti dan simbol kekayaan laki-laki Seorang laki-laki dikatakan sukses dalam hidup, jika berhasil memiliki garwo (isteri), bondo (harta), griyo (istana), turonggo (kendaraan), kukilo (burung piaraan) dan pusoko (senjata atau kesaktian.) Laki-laki menjadi sejatinya laki-laki jika memiliki benggol (harta) dan bonggol (kejantanan seksual).

Semakin banyak isteri, semakin sukseslah ia dimata orang lain. Dimana secara tidak langsung hal ini perlahan-lahan membawa dirinya ke dalam sifat keangkuhan dan kesombongan, sehingga melupakan kenyataan bahwa “Diatas langit masih ada langit”. Jika Allah mau, dalam sekejap semuanya dapat diambil, “Kun Fa Ya Kun”.

Isteri adalah manusia yang punyai hati nurani dan perasaan yang sama seperti seorang suami. Layaknya seorang suami, isteripun menginginkan suami untuk menjaga kelakuannya dibalik dirinya. Karena apa yang terjadi pada suami, akan berdampak pada isteri dan anak-anak. Ketika ingin menikah lagi, suami senantiasa menggunakan kalimat “Semua ini kehendak Allah SWT”, padahal itu tidaklah benar. Jika dikaji kembali pada proses awal hubungan antara suami dengan selingkuhannya, apabila sang suami bisa belajar menahan dirinya untuk tidak tergoda oleh nafsunya sebagaimana isterinya menahan dirinya untuk tidak tergoda oleh lelaki lain, maka perselingkungan itu hanya akan bersifat sementara. Akan tetapi, jika suami lebih dikuasai oleh nafsunya daripada imannya, maka hubungan perselingkuhan itu akan bersifat abadi. Yang menjadi pertanyaan sekarang, mengapa hanya perempuan yang harus menjaga kelakuannya setelah ia menikah sedangkan suaminya bisa tebar pesona kemana-manadengan harta benda yang dimilikinya ? Inikah yang namanya keadilan ?

Para lelaki yang menjunjung tinggi poligami, selalu menggunakan contoh nabi Muhammad yang beristerikan empat orang. Akan tetapi, mereka lupa atas dasar apa nabi menikahi para isterinya tersebut. Nabi Muhammad hanya beristerikan seorang selama isteri pertamanya masih hidup yakni Siti Khadijah. Padahal usia mereka terpaut 15 tahun dimana Siti Khadijah lebih tua dari Nabi Muhammad. Ketika menikah, usia beliau masih muda yakni 25 tahun sedangkan Siti Khadijah sudah berusia 40 tahun. Selain itu, Siti Khadijah pun telah pernah menikah dua kali sebelumnya. Siti Khadijahlah yang paling berjasa dalam membantu Nabi Muhammad untuk menyebarkan dakwah. Bahkan, dialah wanita pertama yang menyatakan dirinya masuk islam. Ketika usia nabi 53 tahun, Siti Khadijah meninggal dunia.

Nabi Muahmmad sangat sedih dengan kematian Siti Khadijah yang telah membantunya dalam menyebarkan agama Islam. Kemudian datangnya perintah Allah bagi Nabi Muhammad untuk bangkit kembali menyiarkanislam. Dimana ia kemudian mengawini perempuan-perempuan yang dimerdekakan dari budak untuk melindungi mereka, atas perintah Allah. Terakhir ia menikahi Siti Aisyah RA, setelah mendapat ilham dari Allah lewat mimpi, yang ternyata anaknya sahabatnya sendiri yakni Abubakar Sidig. Siti Aisyah selain memiliki paras yang sangat cantik juga memiliki kecerdesan yang luar biasa, dialah yang membantu para sahabat nabi, yakni Utsman ibn Affan dan Zait ibn Harris untuk membukukan Al-quran sehingga dibaca sepanjang masa oleh umat Nabi Muhammad SAW.

Jadi tidaklah benar kiranya orang hanya mengambil contoh nabi Muhammad SAW, tanpa mengkaji latar belakang mengapa dia beristeri empat orang. Bukan karena dia mampu bersikap adil semata, tetapi karena adanya perintah dari Allah untuk menyebarkan agama Islam ke seluruh dunia. Alasan orang menggunakan contoh Nabi Muhammad SAW hanyalah untuk melindungi dirinya dipermasalahkan oleh orang lain. Kenyataannya Nabi Muhammad menikah bukan untuk menunjukkan status sosial atau kedudukannya, akan tetapi justru dalam rangka penyebaran agama Islam. Dua hal yang sangat berbeda. Karena pada kenyataanya, wanita yang paling dicintai oleh Nabi Muhammad SAW adalah Siti Khadijah, isteri pertamanya., karena ialah yang paling berjasa besar dalam hidup Nabi Muhammad SAW. Seandainya dia tidak meninggal terlebih dahulu, tentu nabi Muhammad akan tetap bersama Siti Khadijah sepanjang hayatnya. Namun semua itu adalah kehendak Allah. Jadi janganlah begitu mudah membandingkan diri kita dengan Nabi Muhammad SAW.Kedua contoh kasus dalam tulisan ini yang telah dikemukan diatas, merupakan perwakilan gambaran bahwa poligami bisa memberikan dampak panjang yakni penelantaran rumah tangga, dimana baik isteri pertama atau isteri kedua sama-sama dapat mengalami penelantaran rumah tangga oleh suaminya baik semasa hidup ataupun setelah meninggal dunia. Yang perlu diyakini disini adalah, bahwa perempuan tidak boleh pasrah dalam keadaan tertindas. Terlebih lagi ketika kesetiaan seorang isteri telah tercoreng dengan perbuatan suami yang tidak menjaga sikap dan kelakuannya dibelakang isteri. Isteri bukanlah boneka mainan. Yang hanya bisa dipanjang dalam kebisuan yang panjang. Isteri punya perasaan dan hati nurani. Ia melahirkan anak-anak kemuka bumi karena rasa cintanya terhadap suaminya. Ia pertaruhkan nyawa antara hidup dan mati, sementara suami hanya bisa memandangi. Sakitnya hati seorang seorang isteri, ketika pengorbanan dirinya dianggap sebagai hal sepele oleh suami. Dimanapengorbanan dan kesetiaannya dibalas dengan perselingkuhan dari pihak suami. Perempuan mana yang tidak terluka! Isteri juga manusia!!!!! !!!!!!!!! !!!!!!!!! !!!!!!!!! !!!!

Benarkah Poligami Sunah? by Faqihuddin Abdul Kodir

Benarkah Poligami Sunah?

Faqihuddin Abdul Kodir

UNGKAPAN "poligami itu sunah" sering digunakan sebagai pembenaranpoligami. Namun, berlindung pada pernyataan itu, sebenarnya bentuk lain dari pengalihan tanggung jawab atas tuntutan untuk berlaku adil karena pada kenyataannya, sebagaimana ditegaskan Al Quran, berlaku adil sangat sulit dilakukan (An-Nisa: 129).

DALIL "poligami adalah sunah" biasanya diajukan karena sandaran kepada teks ayat Al Quran (QS An-Nisa, 4: 2-3) lebih mudah dipatahkan. Satu-satunya ayat yang berbicara tentang poligami sebenarnya tidakmengungkapkan hal itu pada konteks memotivasi, apalagi mengapresiasi poligami. Ayat ini meletakkan poligami pada konteks perlindungan terhadap yatim piatu dan janda korban perang.

Dari kedua ayat itu, beberapa ulama kontemporer, seperti Syekh Muhammad Abduh, Syekh Rashid Ridha, dan Syekh Muhammad al-Madan-ketiganya ulama terkemuka Azhar Mesir-lebih memilih memperketat.

Lebih jauh Abduh menyatakan, poligami adalah penyimpangan dari relasi perkawinan yang wajar dan hanya dibenarkan secara syar'i dalam keadaan darurat sosial, seperti perang, dengan syarat tidak menimbulkan kerusakan dan kezaliman (Tafsir al-Manar, 4/287).

Anehnya, ayat tersebut bagi kalangan yang propoligami dipelintirmenjadi "hak penuh" laki-laki untuk berpoligami. Dalih mereka, perbuatan itu untuk mengikuti sunah Nabi Muhammad SAW. Menjadi menggelikan ketika praktik poligami bahkan dipakai sebagai tolok ukur keislaman seseorang: semakin aktif berpoligami dianggap semakin baik poisisi keagamaannya.

Atau, semakin bersabar seorang istri menerima permaduan, semakin baik kualitas imannya. Slogan-slogan yang sering dimunculkan misalnya, "poligami membawa berkah", atau "poligami itu indah", dan yang lebih populer adalah "poligami itu sunah".

Dalam definisi fikih, sunah berarti tindakan yang baik untuk dilakukan. Umumnya mengacu kepada perilaku Nabi. Namun, amalan poligami, yang dinisbatkan kepada Nabi, ini jelas sangat distorsif. Alasannya, jika memang dianggap sunah, mengapa Nabi tidak melakukannya sejak pertama kali berumah tangga?

Nyatanya, sepanjang hayatnya, Nabi lebih lama bermonogami daripadaberpoligami. Bayangkan, monogami dilakukan Nabi di tengah masyarakat yang menganggap poligami adalah lumrah. Rumah tangga Nabi SAW bersama istri tunggalnya, Khadijah binti Khuwalid RA, berlangsung selama 28 tahun. Baru kemudian, dua tahun sepeninggal Khadijah, Nabi berpoligami. Itu pun dijalani hanya sekitar delapan tahun dari sisa hidup beliau. Dari kalkulasi ini, sebenarnya tidak beralasan pernyataan "poligami itu sunah".

Sunah, seperti yang didefinisikan Imam Syafi'i (w. 204 H), adalahpenerapan Nabi SAW terhadap wahyu yang diturunkan. Pada kasus poligami Nabi sedang mengejawantahkan Ayat An-Nisa 2-3 mengenai perlindungan terhadap janda mati dan anak-anak yatim. Dengan menelusuri kitab Jami' al-Ushul (kompilasi dari enam kitab hadis ternama) karya Imam Ibn al-Atsir (544-606H), kita dapat menemukan bukti bahwa poligami Nabi adalah media untuk menyelesaikan persoalan sosial saat itu, ketika lembaga sosial yang ada belum cukup kukuh untuk solusi.

Bukti bahwa perkawinan Nabi untuk penyelesaian problem sosial bisa dilihat pada teks-teks hadis yang membicarakan perkawinan-perkawin an Nabi. Kebanyakan dari mereka adalah janda mati, kecuali Aisyah binti Abu Bakr RA.

Selain itu, sebagai rekaman sejarah jurisprudensi Islam, ungkapan "poligami itu sunah" juga merupakan reduksi yang sangat besar.Nikah saja, menurut fikih, memiliki berbagai predikat hukum, tergantung kondisi calon suami, calon istri, atau kondisi masyarakatnya. Nikah bisa wajib, sunah, mubah (boleh), atau sekadar diizinkan. Bahkan, Imam al-Alusi dalam tafsirnya, Rûh al-Ma'âni, menyatakan, nikah bisa diharamkan ketika calon suami tahu dirinya tidak akan bisa memenuhi hak-hak istri, apalagi sampai menyakiti dan mencelakakannya. Demikian halnya dengan poligami.

Karena itu, Muhammad Abduh dengan melihat kondisi Mesir saat itu, lebih memilih mengharamkan poligami.

Nabi dan larangan poligami

Dalam kitab Ibn al-Atsir, poligami yang dilakukan Nabi adalah upayatransformasi sosial (lihat pada Jâmi' al-Ushûl, juz XII, 108-179).Mekanisme poligami yang diterapkan Nabi merupakan strategi untukmeningkatkan kedudukan perempuan dalam tradisi feodal Arab pada abad ke-7 Masehi. Saat itu, nilai sosial seorang perempuan dan janda sedemikian rendah sehingga seorang laki-laki dapat beristri sebanyak mereka suka.

Sebaliknya, yang dilakukan Nabi adalah membatasi praktik poligami,mengkritik perilaku sewenang-wenang, dan menegaskan keharusan berlaku adil dalam berpoligami.

Ketika Nabi melihat sebagian sahabat telah mengawini delapan sampaisepuluh perempuan, mereka diminta menceraikan dan menyisakan hanya empat. Itulah yang dilakukan Nabi kepada Ghilan bin Salamah ats-Tsaqafi RA, Wahb al-Asadi, dan Qais bin al-Harits. Dan, inilah pernyataan eksplisit dalam pembatasan terhadap kebiasan poligami yang awalnya tanpa batas sama sekali.

Pada banyak kesempatan, Nabi justru lebih banyak menekankan prinsip keadilan berpoligami. Dalam sebuah ungkapan dinyatakan: "Barang siapa yang mengawini dua perempuan, sedangkan ia tidak bisa berbuat adil kepada keduanya, pada hari akhirat nanti separuh tubuhnya akan lepas dan terputus" (Jâmi' al-Ushûl, juz XII, 168, nomor hadis: 9049). Bahkan, dalam berbagai kesempatan, Nabi SAW menekankan pentingnya bersikap sabar dan menjaga perasaan istri.

Teks-teks hadis poligami sebenarnya mengarah kepada kritik, pelurusan, dan pengembalian pada prinsip keadilan. Dari sudut ini, pernyataan "poligami itu sunah" sangat bertentangan dengan apa yang disampaikan Nabi. Apalagi dengan melihat pernyataan dan sikap Nabi yang sangat tegas menolak poligami Ali bin Abi Thalib RA. Anehnya, teks hadis ini jarang dimunculkan kalangan propoligami. Padahal, teks ini diriwayatkan para ulama hadis terkemuka: Bukhari, Muslim, Turmudzi, dan Ibn Majah.

Nabi SAW marah besar ketika mendengar putri beliau, Fathimah bintiMuhammad SAW, akan dipoligami Ali bin Abi Thalib RA. Ketika mendengar rencana itu, Nabi pun langsung masuk ke masjid dan naik mimbar, lalu berseru: "Beberapa keluarga Bani Hasyim bin al-Mughirah meminta izin kepadaku untuk mengawinkan putri mereka dengan Ali bin Abi Thalib.

Ketahuilah, aku tidak akan mengizinkan, sekali lagi tidak akanmengizinkan. Sungguh tidak aku izinkan, kecuali Ali bin Abi Thalibmenceraikan putriku, kupersilakan mengawini putri mereka. Ketahuilah, putriku itu bagian dariku; apa yang mengganggu perasaannya adalah menggangguku juga, apa yang menyakiti hatinya adalah menyakiti hatiku juga." (Jâmi' al-Ushûl, juz XII, 162, nomor hadis: 9026).

Sama dengan Nabi yang berbicara tentang Fathimah, hampir setiap orangtua tidak akan rela jika putrinya dimadu. Seperti dikatakan Nabi, poligami akan menyakiti hati perempuan, dan juga menyakiti hati orangtuanya.

Jika pernyataan Nabi ini dijadikan dasar, maka bisa dipastikan yang sunah justru adalah tidak mempraktikkan poligami karena itu yang tidak dikehendaki Nabi. Dan, Ali bin Abi Thalib RA sendiri tetap bermonogami sampai Fathimah RA wafat.

Poligami tak butuh dukungan teks

Sebenarnya, praktik poligami bukanlah persoalan teks, berkah, apalagisunah, melainkan persoalan budaya. Dalam pemahaman budaya, praktik poligami dapat dilihat dari tingkatan sosial yang berbeda.

Bagi kalangan miskin atau petani dalam tradisi agraris, poligami dianggap sebagai strategi pertahanan hidup untuk penghematan pengelolaan sumber daya. Tanpa susah payah, lewat poligami akan diperoleh tenaga kerja ganda tanpa upah. Kultur ini dibawa migrasi ke kota meskipun stuktur masyarakat telah berubah. Sementara untuk kalangan priayi, poligami tak lain dari bentuk pembendamatian perempuan. Ia disepadankan dengan harta dan takhta yang berguna untuk mendukung penyempurnaan derajat sosial lelaki.

Dari cara pandang budaya memang menjadi jelas bahwa poligami merupakan proses dehumanisasi perempuan. Mengambil pandangan ahli pendidikan Freire, dehumanisasi dalam konteks poligami terlihat mana kala perempuan yang dipoligami mengalami self-depreciation. Mereka membenarkan, bahkan bersetuju dengan tindakan poligami meskipun mengalami penderitaan lahir batin luar biasa. Tak sedikit di antara mereka yang menganggap penderitaan itu adalah pengorbanan yang sudah sepatutnya dijalani, atau poligami itu terjadi karena kesalahannya sendiri.

Dalam kerangka demografi, para pelaku poligami kerap mengemukakan argumen statistik. Bahwa apa yang mereka lakukan hanyalah kerja bakti untuk menutupi kesenjangan jumlah penduduk yang tidak seimbang antara lelaki dan perempuan. Tentu saja argumen ini malah menjadi bahan tertawaan. Sebab, secara statistik, meskipun jumlah perempuan sedikit lebih tinggi, namun itu hanya terjadi pada usia di atas 65 tahun atau di bawah 20 tahun. Bahkan, di dalam kelompok umur 25-29 tahun, 30-34 tahun, dan 45-49 tahun jumlah lelaki lebih tinggi. (Sensus DKI dan Nasional tahun 2000; terima kasih kepada lembaga penelitian IHS yang telah memasok data ini).

Namun, jika argumen agama akan digunakan, maka sebagaimana prinsip yang dikandung dari teks-teks keagamaan itu, dasar poligami seharusnya dilihat sebagai jalan darurat. Dalam kaidah fikih, kedaruratan memang diperkenankan. Ini sama halnya dengan memakan bangkai; suatu tindakan yang dibenarkan manakala tidak ada yang lain yang bisa dimakan kecuali bangkai.

Dalam karakter fikih Islam, sebenarnya pilihan monogami atau poligami dianggap persoalan parsial. Predikat hukumnya akan mengikuti kondisi ruang dan waktu. Perilaku Nabi sendiri menunjukkan betapa persoalan ini bisa berbeda dan berubah dari satu kondisi ke kondisi lain. Karena itu, pilihan monogami-poligami bukanlah sesuatu yang prinsip. Yang prinsip adalah keharusan untuk selalu merujuk pada prinsip-prinsip dasar syariah, yaitu keadilan, membawa kemaslahatan dan tidak mendatangkan mudarat atau kerusakan (mafsadah).

Dan, manakala diterapkan, maka untuk mengidentifikasi nilai-nilaiprinsipal dalam kaitannya dengan praktik poligami ini, semestinyaperempuan diletakkan sebagai subyek penentu keadilan. Ini prinsip karena merekalah yang secara langsung menerima akibat poligami. Dan, untuk pengujian nilai-nilai ini haruslah dilakukan secara empiris, interdisipliner, dan obyektif dengan melihat efek poligami dalam realitas sosial masyarakat.

Dan, ketika ukuran itu diterapkan, sebagaimaan disaksikan Muhammad Abduh, ternyata yang terjadi lebih banyak menghasilkan keburukan daripada kebaikan. Karena itulah Abduh kemudian meminta pelarangan poligami.

Dalam konteks ini, Abduh menyitir teks hadis Nabi SAW: "Tidak dibenarkan segala bentuk kerusakan (dharar) terhadap diri atau orang lain." (Jâmi'a al-Ushûl, VII, 412, nomor hadis: 4926). Ungkapan ini tentu lebih prinsip dari pernyataan "poligami itu sunah".

Faqihuddin Abdul Kodir Dosen STAIN Cirebon dan peneliti Fahmina Institute Cirebon, Alumnus Fakultas Syariah Universitas Damaskus, Suriah

A Family

I have heard a lot and been told about love of a mother. How she carried us in her womb for 9 and a half months, how she delivered us into earth, how she taught us to walk and how she taught us to talk. When I watched this movie (damn tear jerker!), my eyes are opened for a love of a father. So there is a woman who hated her father since she believed that her mother was not happy living with his father. His father loved to drink and he had his left eye blind.

This woman was involved in a kind of mafia business when she deceived her boss by stealing his money. She was chased by this mafia boss and he even came to her father to ask for money. The fathers paid the amount of money without her acknowledge. Moreover, he asked her to step out of the house because she owed money from that boss. She was in raged and said that her mother would be doing the same thing if she’s still alive (to step out of the house) since he’s just a drinker and blind.

So, there she went out of the house and stayed in the salon where she’s working. One early morning came the friend of her father telling her how much her father loved her (this is he saw how he protected his daughter in any conversation and saw how sick he was). Before that, she knew that her father was awfully sick and he needed donor to save his life. She said that she would take a test to know if she could be the donor. Once her blood was taken, the friend of her father was saying that he got blind when she was four. She had been dreaming to be a hairdresser even when she’s still a kid. So one day she took a pair of scissors and started to cut her father hair. Yet the scissors were too heavy for her and fell into her father’s eyes. There gone the dream of his father to be a police.

There’s still a lot of crisis in this movie. There are not much facial expressions shown in this movie. There’s a facial expression when the father died to cover for her.

It is a long movie and very touching.

It is about A LOVE OF A FATHER for the sake of his family and his kids.

negative thinking (you or me?) and boredom

understandable....

It was too much. We should have a pace among all. You started to hide away. You started to be away from me. It’s just because I know how you feel and you do not want anyone to know. You only believe in your self. You are afraid to know the truth. Strange, I know you as someone interestingly odd and unique, yet when it comes to that point you are beyond than just odd and unique. You are completely odd and stranger.

I decided to go away from your life if that makes you happy and bring back the sun shine on your face. Believe me; I do not intend to do what you’re afraid I am going to do. You are full of thoughts that you should not think. I will never do what that patience woman does. What are you afraid of me then?

I will not take away the love of your life.
I will not take away your hopes.
I will not do what you’re afraid I am going to do.
I am going to step out.
Come on, rise and shine.
The world is yours.

Above all, there is an understanding that you are not always right.

Every single of you is not always right.

Every single of us is not always right.

There is only one thing that is right.

The love of the power creator.

amigos para siempre

There is always a thought that friends might be separated. People keep growing up and it is clearer that people go separate ways. Separate ways, some people stay and some people leave. So came three figures. Two funny figures and one calm and soft figure exist. They are the same. They foresee and fore speaking.

Those three figures have been there and pray. Three figures have been quietly supporting. Three figures have been teaching people to get back on the track. Three figures that have been telling what’s right. Three figures exist with different interesting characteristics and way of thinking. Three figures that people can not always have by people’s side. People start to wish not to forget.

Yet one believes that though they are not communicating to each other, their souls and spirits are communicating.

Inspired and dedicated to Keris Man, Newly Completed Man and Petruk Semar.

A four year old girl was standing outside her house when the night was about to come. The sky was red. There she saw three faces of men. Were they kings or wise men?

Thursday, November 09, 2006

Happines (?)

Happiness seems to be the most important thing that every human being is searching for. In some decisions that you make, some might ask you, “Are you happy with this?” Most of us would say, “Yes, I am happy with this” “Yes, I am happily married” Yes, I am happy to be single” “Yes, I am happy to work in this organization” “No, I would be very happy to work somewhere else” “Yes, I am the happiest man in the world” “Yes, I am the happiest woman in this world”

But what happiness means? Do we really understand what it means while we're saying it?

Is it just the sensation in one, two, three or five years?

What if you regret what you have decided after two or three or five years later?

Does it mean that you have made mistake?

Will you regret or negate the happiness that you mentioned long time ago?

What makes you regret?

An email strokes me today. It’s sent by my close friend, Bang Bennu, so close that I even considered him as my brother.


Di Mana Letak Kebahagiaan?


Konon pada suatu waktu, Tuhan memanggil tiga malaikatnya. Sambil memperlihatkan sesuatu Tuhan berkata, "Ini namanya Kebahagiaan. Ini sangat bernilai sekali. Ini dicari dan diperlukan oleh manusia. Simpanlah di suatu tempat supaya manusia sendiri yang menemukannya. Jangan ditempat yang terlalu mudah sebab nanti kebahagiaan ini disia-siakan. Tetapi jangan pula di tempat yang terlalu susah sehingga tidak bisa ditemukan oleh manusia. Dan yang penting, letakkan kebahagiaan itu di tempat yang bersih".Setelah mendapat perintah tersebut, turunlah ketiga malaikat itu langsung ke bumi untuk meletakkan kebahagiaan tersebut. Tetapi dimana meletakkannya?
Malaikat pertama mengusulkan, "Letakan dipuncak gunung yang tinggi". Tetapi para malaikat yang lain kurang setuju. Lalu malaikat kedua berkata, "Latakkan di dasar samudera". Usul itupun kurang disepakati. Akhirnya malaikat ketiga membisikkan usulnya. Ketiga malaikat langsung sepakat. Malam itu juga ketika semua orang sedang tidur, ketiga malaikat itu meletakkan kebahagiaan di tempat yang dibisikkan tadi.Sejak hari itu kebahagiaan untuk manusia tersimpan rapi di tempat itu. Rupanya tempat itu cukup susah ditemukan. Dari hari ke hari, tahun ke tahun, kita terus mencari kebahagiaan. Kita semua ingin menemukan kebahagiaan.Kita ingin merasa bahagia. Tapi dimana mencarinya?Ada yang mencari kebahagiaan sambil berwisata ke gunung, ada yang mencari di pantai, Ada yang mencari ditempat yang sunyi, ada yang mencari ditempat yang ramai. Kita mencari rasa bahagia di sana-sini: di pertokoan, di restoran, ditempat ibadah, di kolam renang, di lapangan olah raga, di bioskop, di layar televisi, di kantor, dan lainnya. Ada pula yang mencari kebahagiaan dengan kerja keras, sebaliknya ada pula yang bermalas-malasan. Ada yang ingin merasa bahagia dengan mencari pacar, ada yang mencari gelar, ada yang menciptakan lagu, ada yang mengarang buku, dll.Pokoknya semua orang ingin menemukan kebahagiaan. Pernikahan misalnya, selalu dihubungkan dengan kebahagiaan. Orang seakan-akan beranggapan bahwa jika belum menikah berarti belum bahagia. Padahal semua orang juga tahu bahwa menikah tidaklah identik dengan bahagia.Juga kekayaan sering dihubungkan dengan kebahagiaan. Alangkah bahagianya kalu aku punya ini atau itu, pikir kita. Tetapi kemudian ketika kita sudah memilikinya, kita tahu bahwa benda tersebut tidak memberi kebahagiaan.Kita ingin menemukan kebahagiaan. Kebahagiaan itu diletakkan oleh tiga malaikat secara rapi. Dimana mereka meletakkannya? Bukan dipuncak gunung seperti diusulkan oleh malaikat pertama. Bukan didasar samudera seperti usulan malaikat kedua. Melainkan di tempat yang dibisikkan oleh malaikat ketiga.Dimanakah tempatnya?Saya menuliskan sepenggal kisah perjalanan hidup saya untuk berbagi rasa dengan teman-teman semua, bahwa untuk mendapatkan kesuksesan dan kebahagiaan itu tidaklah mudah. Perlu perjuangan. Ibarat sebuah berlian, dimana untuk mendapatkan kilauan yang cemerlang, harus terus diasah dan ditempa sehingga kemilauan yang dihasilkan terpancar dari dalamnya.Begitu juga hidup ini.Kita harus rendah hati. Seringkali kita merasa minder dengan keberadaan diri kita. Sering kali kita berkata, ach... gue mah belum jadi orang. Kita harus ingat, bahwa yang menentukan masa depan kita adalah Tuhan. Dan kita harus menyadari bahwa jalan Tuhan bukan jalan kita. Tuhan akan membuat semuanya INDAH pada waktunya.Jika menurut buku ada 7 faktor (mental, spiritual, pribadi, keluarga, karir, keuangan dan fisik) yang menentukan sukses seseorang, mengapa tidak kita coba untuk mencapainya semua itu?Setelah kita mencapainya, bagaimana kita membuat ke-7 faktor tersebut menjadi seimbang?Yang penting disini adalah hikmat.Barangsiapa yang bijaksana dapat mencapai kebahagiaan dan kesuksesan di dalam hidup ini.Oh ya..., dimanakah para malaikat menyimpan kebahagiaan itu?DI HATI YANG BERSIH

Yes, the pure heart that’s where you can find true happiness. Pure heart also gives you answers for never-ending happiness.

Sang Bhagava telah sadar,
Sang Bhagava telah menaklukan kekotoran batin,
Sang Bhagava telah mencapai ketenangan batin,
Sang Bhagava telah mencapai pantai seberang,
Sang Bhagava telah mencapai Nibbana,

Beliau mengajarkan Dhamma untuk:
- Kesadaran,
- menaklukan kotoran batin,
- pencapaian ketenangan batin,
- pencapaian pantai seberang,
- pencapaian Nibbana.
(Majjhima Nikaya I, 235)




Thursday, October 26, 2006

Eid Mubarak

Tahun berganti tahun
Ramadhan …
Ramadhan …
Bertemu Ramadhan lagi
Benarkah ketulusan untuk memaafkan telah hadir di hati kita?
Benarkah kita sudah memohon ampun kepadaNya?
Saudaraku, bersyukur kita masih diberi kesempatan
(most part of WS Rendra’s poem as what he read on TV ads)


I faced another Ramadhan in this small town this year. A small town called as “Serambi Mekah”. This Ramadhan has awakened me and told me that I have been in this province for almost two years. It is kind a record for me since I had never been working in one place for more than one and a half years. Last year’s Ramadhan was not able to move me from my chair to walk out to town. There were neither waking-up early, fireworks, plans nor going out to streets taking pictures. This year is different for me.

I am so lucky for renting a room on an alley along the Neusu street in front of Pante Perak Supermarket. Neusu is one of the major areas where people go to buy things, sightseeing, having their dinners or just to sit on the side of the road chatting with some pals. Neusu were getting merrier and merrier one week before the Idul Fitri. Fireworks started one hour after the fast breaking.

I am highly moved by the fireworks that the young people lighted. I had to run out from my room to catch the fireworks and it was like again and again since it was not continuous. I even had to run out without my slippers. Since I was outside already I decided to walk along the street that night.

It was so crowded that night. Becak drivers took their families to shop some clothes, some girls were busy choosing which veils they’re going to buy, children laughed and shouted enjoying the moment while their mothers’ eyes were on clothes and items on shops. Most families went around the town with a small pick up filled with children and mothers at the back. Somehow, I could feel the cheer in their hearts. I felt that it was a cheerful night.

The next day was the time for Sholat Ied. Too bad, it was raining though just a bit. There were no people on the field to pray together. Most prayers were done in mosque. The worst of all was I got up late! Damn! I jumped out of bed, washed my face, and grabbed my bike in a rush. As I went out, the Neusu Streetwas amazingly empty and quiet. I just saw a couple of people riding motorbike rushing to nearest mosque. As I rode my bicycle on the other end of this street, I saw some young people running, giggling realizing that they were late for praying. Some mosques called for their followers to get into the mosque as the Imam already arrived and it’s about to be started.

Then, I rode to the Masjid Raya where not much crowds were there. People have gone one by one to their house as the praying was already over yet I still could hear the Imam was having his khotbah. Yet, some people were sitting outside listening or just chatting to one another. Phew. It’s a great loss for me and the weather was not so friendly either.

So, I decided to go back and the streets were slowly waking up. I was so exhausted after pedalling my bike. As I heard this closing prays somehow I felt something rushing in my tummy and my heart beated very fast. I was so hungry and sweating.

Then, the beautiful voice of my landlady sounded like a lunch break bell. “Diyah, come! Let’s have some breakfast together”. Woohooo …. Yahoo!!! No second thought, I ran out, wished them a happy Idul Fitri and meal time!!!

Then I was thinking of visiting some colleagues. Too bad, when I was about to visit them it’s raining!!! And this continued until the next day. So, I thought that I would just congratulate them for the Idul Fitri when I came to office on Thursday. I have to say that this year Ramadhan has got something into my mind. I also felt happy though I was spending the Ramadhan alone and one of my friends has decided not to consider me as his friend.

Pakaian terbaik
Bahan:
- kesabaran
- benang kesucian
Hiasan: keikhlasan
Lama penjahitan: 1 bulan
(Advertisement PT. Gudang Garam, Tbk.)

Sunday, October 15, 2006

Hectic

Waking up
Heating up water
Breakfast
Playing games
Heating up water
Taking a bath
Biking
Good morning
Writing reports
Writing concepts
Chatting
Writing blogs
Cookies with natural fibre
Making recommendations
Answering phone calls
Making phone calls
Having lunch
Having meetings
Having trainings
Cookies with natural fibre
Having presentations
Having arguments
Chatting
Biking
Playing games
Heating up water
Taking a bath
Having Dinner
Extravaganza
Yes, dear
My wife and kids
Seinfield
Mr. Bean
National geographic Channel
Playing games
True Hollywoodstories
Silent moments
Roaring motorbike
Roaring Nidji
Loud Opick
Roaring motorbikes
Loud RIF
Roaring motorbike
Loud musics
Roaring motorbikes
Loud noises
People scream to death
Explosions
Babies crying
Roaring siren

Drama Queen, queen bee, mother earth

“Yes, I’m a drama queen like everyone does” (Lindsay Lohan)

It’s a very straightforward and honest statement. What does drama queen mean?
Drama queen, to my understanding, is a female who often acts completely different to what she’s feeling perfectly without anyone can notice. For example, she’s sad, yet she can laugh and be cheerful anytime. In other words, she hides what she’s feeling or suffering from. Another point of view is that she can play many characters regardless to her nature characters.


Another labelling is what we call Queen Bee. The queen bee is the biggest bee among all. She doesn’t work. She eats from the food that was collected by bee males. What she does is eating, mating and giving birth. She’s the centre of attention of all bees. She gets the attention and demands attention from all bees. Every bee serves her. Let’s give it an example. A woman, let’s call her Kwin, who loves to get attention from anyone no matter how. Kwin will not like people not paying attention or listening to her. She has to be listened anytime, anywhere.

Mother earth … this one is well respected by her nature (hopefully). She gives loves to people. She brings smiles to every human. She gives life to every human nature. She gives ideas to any poets, any artists, and as well to any story tellers. She’s got pure aim. She’s soft spoken. Yet, she needs to give lessons as what mother does. She will show instead of teaching. She will be soft spoken in telling things and in warning her children. When it comes to the point where her children do not listen, she will show the consequences of what her children had done. Many children will sob, cry and some scream.

What will she do then?

Let’s be silent in moment and start talking and listening to mother earth.

Anguttara Nikaya IV, 157

Ada delapan kondisi dunia yang dapat mempengaruhi, yang dapat mengombang-ambingkan, dan yang dapat menguasai kehidupan manusia:

1. LOBBA Mendapatkan keuntungan, beruntung
2. ALOBHA Mendapatkan kerugian, tidak beruntung.
3. YASO Memperoleh kedudukan / kekuasaan.
4. AYASO Tidak memperoleh kedudukan / kekuasaan.
5. NINDA Dicela
6. PASAMSA Dipuji
7. SUKKHA Mengalami kebahagiaan
8. DUKKHA Mengalami penderitaan


Apabila salah satu dari delapan kondisi dunia ini timbul, maka, seseorang harus merenungkan demikian:

"Kondisi itu telah timbul pada diriku, tetapi sifatnya tidak kekal dan tidak tetap, harus diketahui sebagaimana adanya, dan tidak seharusnya aku dikuasai oleh pikiran itu"

Dengan kata lain, seseorang janganlah:

Terlalu bergembira terhadap hal-hal yang menyenangkan, terlalu bersedih terhadap hal-hal yang tidak menyenangkan.

Help me, G!

Sunday, October 08, 2006

Toilet is my life (My life is toilet?)

Travelling is one of my favourite things to do. It’s a moment where I can open my eyes wider to the beautiful scenery, to the people that I met and the jobs and life that I am doing and going through. It’s a good time to reflect whether what you have said and done are right or wrong. Though it’s still an issue of what things are considered to be right and what things are considered to be wrong. It will be called right according to whom and it will be wrong in whose point of view? It’s all about who and whom. It’s always about somebody else. Somebody is the people who called themselves as the wisest and cleverest survivor.

Back to travelling, there’s another side of the story from my travel. I have got this habit that some of my friends already know and that is going to toilets for like a thousand of times in one day. That’s why I have to assure that my stomach is empty while I am travelling. Or else, the driver will be mad and crazy finding me toilets because I can just feel like having it anytime and anywhere. It’s a torturing moment where I have to hold on tight to make sure that it won’t go out before we reached nearest toilet (yuck!!). I was sweating like hell and shivering like crazy. By the time we reached toilets, it felt like … wuuuhhhuuuu … yahoooo!!! Victory!!! I prepared myself with a roll of toilet paper as well. Toilet is my life. Indeed, my friend.

In other words, I save it and try very hard to keep it before I reached the perfect place to reply to the nature call, though the bushes and grasses behind those trees seem to be tempting.

Hmmm …

So are you the type of person who can just shit anywhere or you can shit when there is toilet only?

Toilet can be traditional and modern. It is called modern if there are walls and toilet seat and it is called traditional when it’s just a small cubicle over the flowing water or sea or a cubicle with a small hole on the ground. I usually go for the modern toilet in cities and I go to traditional toilets when I am in villages or rural areas.

What the shit am I talking about here?

for pictures of toilets with the same writing please check on
http://perwitosari.blogs.friendster.com/my_blog/












Thursday, September 28, 2006

Beautiful people

Silence … so it helps me to know these beautiful people
Silence … has introduced me to them
Silence … has taken me back to them like a prodigy child
Silence … has awaken me in the middle of the nights
Silence … has given me the faces of beautiful people
Beautiful people with white clothes
Loyal beautiful people
Caring beautiful people
They never get tired protecting me at night
They never get tired telling me things
They never get tired advising me
They never get tired embracing my head
They never get tired lay their warm hands on my shoulder
They never get tired caressing me
They are sad when I do not listen to them but they never shed a tear
They step aside and smile when I am happy
They never ignore me
I often ignore them
I often disregard what they say
I often leave them
They sit on my side
They still sit on my side
They still listen to me
They are full of love
They love me

Thank you

You are beautiful people.

Kau selalu ada …

Most-loved creatures

The creatures are crawling around me.
They are dancing in my head.
They are singing loudly.
They are smiling at me gently.
They are smart.
They mock me
They beat me up.
They break me.
They make me bow.
They make me low.
They make me cry
They make me smile.
They make me laugh.
They make me shy.
They are strong …. (Maybe)
They were created first.
They left me.
They were my most loved creatures.
They have painted my life with pink, red, blue and black.

Saving Banyusuci

The conditions are switched. She becomes her and shemale. And her becomes a part of she. Shemale becomes a part of she. She becomes naysayer and judge (like her). She tries to be right in anything she says (like shemale). She tries to be seen as smart analyst (like shemale). Her becomes she. Her starts to be fierce and always be opposite. Shemale starts to be in silent. Shemale started to be wiser in her own way and to her believe (like she). Shemale started to practice what she practices.

She never listens to herself anymore (like her). She never contemplates anymore (like her). Shemale started to go to those stages (like she). Her started to talk in strong voice and hatred eyes (like she). Shemale started to get emotional (like she).

She started to regret what she said. Her started to be confident to everything her said. Shemale is still ignorant. Shemale still tries to be nice and polite. She is still fragile. Her still smiles. She still cries. Shemale still cries. Her still cries.

She wants to be what she is. She wants to be alone as she was born alone and she will go to the Almighty alone. She needs to contemplate more and thinks before she speaks.

Her wants to be what her thinks is right. Her doesn’t realize that her’s trapped in her brain. Her still smiles with her’s lovely smile. Her’s still cheerful.

Shemale wants to be the wisest. Shemale thinks that what shemale decides is the best. Shemale is not happy.

Are they one?

Banyusuci needs to be saved.


Intisari dari kata-kata yang diucapkan dengan baik, adalah PEMAHAMAN
Intisari dari belajar dan memahami, adalah KONSENTRASI
Kebijaksanaan dan pengetahuan orang yang sembrono tidak akan bertambah maju!

(Sutta Nipata 329)

Saving Banyusuci

The conditions are switched. She becomes her and shemale. And her becomes a part of she. Shemale becomes a part of she. She becomes naysayer and judge (like her). She tries to be right in anything she says (like shemale). She tries to be seen as smart analyst (like shemale). Her becomes she. Her starts to be fierce and always be opposite. Shemale starts to be in silent. Shemale started to be wiser in her own way and to her believe (like she). Shemale started to practice what she practices.

She never listens to herself anymore (like her). She never contemplates anymore (like her). Shemale started to go to those stages (like she). Her started to talk in strong voice and hatred eyes (like she). Shemale started to get emotional (like she).

She started to regret what she said. Her started to be confident to everything her said. Shemale is still ignorant. Shemale still tries to be nice and polite. She is still fragile. Her still smiles. She still cries. Shemale still cries. Her still cries.

She wants to be what she is. She wants to be alone as she was born alone and she will go to the Almighty alone. She needs to contemplate more and thinks before she speaks.

Her wants to be what her thinks is right. Her doesn’t realize that her’s trapped in her brain. Her still smiles with her’s lovely smile. Her’s still cheerful.

Shemale wants to be the wisest. Shemale thinks that what shemale decides is the best. Shemale is not happy.

Are they one?

Banyusuci needs to be saved.


Intisari dari kata-kata yang diucapkan dengan baik, adalah PEMAHAMAN
Intisari dari belajar dan memahami, adalah KONSENTRASI
Kebijaksanaan dan pengetahuan orang yang sembrono tidak akan bertambah maju!

(Sutta Nipata 329)

Monday, September 25, 2006

Songs, Personality, Discrimination

I put a song and writing by Paring Waluyo Utomo about his research on Genjer – genjer on my blog the other day. Paring wrote how a traditional and people’s song was banned. Now, I want to talk about another song. I was listening to one song called Dealova sang by Once with Victorian Philharmonic Orchestra. I have heard this song around 4 months ago. I was not really paying any attention to this song. It came to my attention when a couple of my friends sang this song deeply and with their strong voice. Once could not attract me a lot compare to my friends. They sang it like it came from their hearts. They sang it right in front of my eyes with their vivid deep expression so that it thrilled me. Here are the lyrics:


DEALOVA

Aku ingin menjadi mimpi indah dalam tidurmu
Aku ingin menjadi sesuatu yang mungkin bisa kau rindu
Karena langkah merapuh tanpa dirimu
Karena hati tlah letih

Aku ingin menjadi sesuatu yang slalu bisa kau sentuh
Aku ingin kau tahu bahwa aku selalu memujamu
Tanpamu sepinya waktu merantai hati
Ooo .. bayangmu seakan akan

**
Kau seperti nyanyian dalam hatiku yang memanggil rinduku padamu
Seperti udara yang kuhela kau selalu ada

Hanya dirimu yang bisa membuatku tenang
Tanpa dirimu aku merasa hilang
Dan sepi
Dan sepi

**
**

Selalu ada
Kau selalu ada
Selalu ada
Kau selalu ada


Romantic? Yes, indeed

A little bit “dangdut”? Maybe.

But you should listen to it as one package. Try to read the lyrics but try to listen to it with its music.

So, I started to share this song to friends. The reactions were mostly the same. They said that it’s not a new song. They have heard this song like a million of times. Well, as the song is left by more people, I like the song more. I do not think that they have ever seen their friends singing this song from their hearts. I still can remember the expressions on their face, the love in their eyes and the deep desire in their hearts. I can feel what they felt. I can sense what they sensed.

The other reaction from my friend was when she asked me how the lyrics were. When I started to mention the lyrics, she just interrupted me and said, “it’s not so you, Diyah”. She even put the icon of feeling sick to describe how she felt imagining me saying (singing) that song. She did not think that the song suited me.

Well, I guess your personality tells what you are listening to. I guess you are forced to stick on the type of songs that suit your personality. If you are strong and fierce than you only listen to rock music, punks, hardcore, etc, etc. If you are melancholic and soft-spoken then you listen to soft music, pop, orchestra, opera, etc, etc. it reminded me when I was still working in North Maluku. We had a driver named Donal and we call him Om Onal. He’s younger than me and fun to be with especially when it came to getting the local drink … he he he he. I might be wrong but I think he’s a bit fierce. He could just come to a person with a blade if he’s mad with someone. He often told me stories of how naughty, brutal and fierce he was. Some people even looked at him with one eye because of the reputation that he had. A mummy even did not allow her son to go with him. A price to pay to what you have done Om Onal.

One day, we drove up to a harbour that was like 3 hours away from our field office. He was singing to songs while he’s driving to kill time. The songs were slow toned, romantic and melancholic. So, I said, “hey, the songs aren’t so you, Om Onal”. He easily said, “I need something to calm me down. If I listen to rock music, I might end up killing people.” Well, I guess it’s a payback to me to what I have said to Om Onal. I was reacting oddly to my friend’s statement. I was just saying, “Does music choose whom should listen to them?”
It’s people who differentiate who should listen to what kind of music. “

In other words, “does one type of music discriminate whom should listen to them?”

Maybe, it’s what someone said about being consistent. Why should I be consistent when they consistently judge and discriminate annoyingly?


Tuesday, September 19, 2006

genjer genjer

Even a song can be a victim of ambition for powers, positions and long-lasting rulings.

Genjer-genjer(Genjer-genjer)

Di pematang, berserakan (nong kedok-an pating keleler)
2X

Ibunya anak-anak, datang-datang (Emak-e tole,teko-teko)
Mencabuti genjer (mBubuti genjer)
2X


Dapat sebakul (oleh sak tenong)
Lalu ngeloyor pergi (mungkor sedot)
Dapat yang kecil-kecil (seng tole-tole)

Genjer-genjer (genjer-genjer)
Sekarang sudah dibawa pulang (saiki wis digowo muleh)

Intro...

Genjer-genjer (Genjer-genjer)
Pagi-pagi dijual di pasar (isuk-isuk didol ning pasar)
2X

Dibariskan, diikat dan semua digelar
(dijejer-jejer,diuntingi, podo didasar)
2X

Ibunya Jebreng (emak-e Jebreng)
pada beli membawa belasan ikat (
podo tuku nggowowelasan)

Genjer-genjer sekarang siap diolah (genjer-genjer saiki wis arep diolah)

taken from
http://akuluka.multiply.com/music

[Jaker] Genjer-genjer dan Stigmatisasi Komunis (esei PARING WALUYO UTOMO)
heri latiefMon, 11 Jul 2005 14:51:13 -0700


Genjer-genjer dan Stigmatisasi Komunis
Oleh PARING WALUYO UTOMO


Genjer-genjer mlebu kendil wedange gemulak
Setengah mateng dientas yong dienggo iwak
Sego nong piring sambel jeruk ring ngaben
Genjer-genjer dipangan musuhe sego

Sebelum pendudukan tentara Jepang pada tahun 1942, wilayah Kabupaten Banyuwangi termasuk wilayah yang secara ekonomi tak kekurangan. Apalagi ditunjang dengan kondisi alamnya yang subur. Namun saat pendudukan Jepang di Hindia Belanda pada tahun 1942, kondisi Banyuwangi sebagai wilayah yang surplus makanan berubah sebaliknya. Karena begitu kurangnya bahan makanan, sampai-sampai masyarakat harus mengolah daun genjer (limnocharis flava) di sungai yang sebelumnya oleh masyarakat dianggap sebagai tanaman pengganggu.

Situasi sosial semacam itulah yang menjadi inspirasi bagi Muhammad Arief, seorang seniman Banyuwangi kala itu untuk menciptakan lagu genjer-genjer. Digambar oleh M Arif bahwa akibat kolonialisasi, masyarakat Banyuwangi hidup dalam kondisi kemiskinan yang luar biasa sehingga harus makan daum genjer. Kisah itu tampak dalam sebait lagu genjer-genjer di atas.Seiring dengan perkembangan waktu dan Indonesia mencapai kemerdekaan, Muhammad Arief sebagai pencipta lagu genjer-genjer bergabung dengan Lembaga Kebudayaan Rakyat (Lekra) yang memiliki hubungan ideologis dengan Partai Komunis Indonesia. Maka lagu ini pun segera menjadi lagu popular pada masa itu, bahkan dalam pernyataannya kepada penulis, Haji Andang CY seniman sekaligus teman akrab M Arief di Lekra serta Hasnan Singodimayan, sesepuh seniman Banyuwangi menyebutkan bahwa lagu genjer-genjer menjadi lagu populer di era tahun 1960-an, di mana Bing Slamet dan Lilis Suryani penyanyi beken waktu itu juga gemar menyanyikannya dan sempat masuk piringan hitam.

Kedekatan lagu genjer-genjer dengan tokoh-tokoh Lekra dan komunis memang tak dapat dipungkiri. Bahkan dalam sebuah perjalanan menuju Denpasar, Bali pada tahun 1962, Njoto seorang seniman Lekra dan juga tokoh PKI sangat kesengsem dengan lagu genjer-genjer. Waktu itu Njoto memang singgah di Banyuwangi dan oleh seniman Lekra diberikan suguhan lagu genjer-genjer. Tatkala mendengarkan lagu genjer-genjer itu, naluri musikalitas Njoto segera berbicara. Ia segera memprediksikan bahwa lagu genjer-genjer akan segera meluas dan menjadi lagu nasional. Ucapan Njoto segera menjadi kenyataan, tatkala lagu genjer-genjer menjadi lagu hits yang berulang kali ditayangkan oleh TVRI dan diputar di RRI (Lihat Jurnal Srinthil Vol. 3 tahun 2003).

Fobia Genjer-genjer

Entah apa yang salah dengan genjer-genjer sebagai sebuah produk kebudayaan? Selepas PKI dan orang-orang PKI, berikut anak cucunya dihancurkan oleh Orde Baru, tak terkecuali pula lagu genjer-genjer yang sebenarnya adalah lagu yang menggambarkan potret masyarakat pada zaman pendudukan Jepang. Mungkin steriotype lagu genjer-genjer menjadi lagu komunis dan patut dihancurkan muncul atas beberapa faktor. Pertama, sejak awal lagu ini berkembang dan dikreasi oleh kalangan komunis dan dikembangkan oleh kalangan komunis pula.

Walaupun pada perkembangannya pada era tahun 1960-an lagu ini tidak hanya digemari oleh kalangan komunis, tetapi juga masyarakat secara luas. Namun Orde Baru menerapkan politik bumi hangus, maka seluruh produk apa pun yang dilahirkan oleh orang-orang komunis haram hukumnya dan patut dihabisi. Kedua, ketika peristiwa G 30 S tahun 1965 terjadi, Harian KAMI (Kesatuan Aksi Mahasiswa Indonesia) mempelesetkan genjer-genjer menjadi jenderal-jenderal. Dalam catatan pribadinya Hasan Singodimayan, seniman HSBI dan teman akrab M Arief menuliskan bahwa lagu "Genjer-genjer" telah dipelesetkan. Jendral Jendral Nyang ibukota pating kelelerEmake Gerwani, teko teko nyuliki jendralOleh sak truk, mungkir sedot sing toleh-tolehJendral Jendral saiki wes dicekeliJendral Jendral isuk-isuk pada disiksaDijejer ditaleni dan dipelosoroEmake Gerwani, teko kabeh milu ngersoyoJendral Jendral maju terus dipateniAkibat penulisan lagu "Genjer-genjer" menjadi jenderal-jenderal, maka kian kuatlah alasan Orde Baru untuk membumihanguskan lagu ini. Pada perkembangannya, siapa pun yang tetap menyanyikan lagu ini akan ditangkap oleh aparat keamanan, tentu dengan tuduhan komunis. Karena larangan menyanyikan lagu genjer-genjer, maka beberapa seniman gandrung di Banyuwangi juga dilarang untuk menyanyikan lagu genjer-genjer, dan beberapa lagu dan gendhing yang memompa kesadaran politik massa rakyat.

Para seniman gaek pada masa itu seperti Hasnan Singodimayan, dan Haji Andang CY juga merasa heran dengan munculnya lirik lagu genjer-genjer yang sedemikian mendeskreditkan petinggi-petinggi militer waktu itu. Namun apalah kuasa orang-orang lemah waktu itu. Sudah jatuh tertimpa tangga pula, mungkin itulah ungkapan yang patut untuk menggambarkan kondisi seniman-seniman rakyat yang kebanyakan berafiliasi dengan Lekra. Jangankan mengoreksi lagu genjer-genjer, menyelamatkan diri mereka saja susah.

Rehabilitasi Kultural

Kini kita telah memasuki babakan politik baru, sebuah babakan politik yang digadang-gandang akan menarasikan kebebasan. Konsep kebebasan menjadi pilar penting bagi episode kehidupan yang bertemakan demokrasi. Kalau memang saat ini kita bersungguh-sungguh membuat tema kehidupan tentang demokrasi, maka ada hal-hal penting yang menurut hemat penulis diperhatikan, khususnya yang menyangkut politik-kebudayaan.

Pertama, alam demokrasi harus memberikan tempat yang setara bagi segenap kalangan, tanpa memandang latar belakang kultural, agama, dan politik. Konsekuensinya, seluruh produk kebudayaan apa pun bentuknya diperkenankan tampil kembali menghiasai ruang publik, dan diserahkan kepada pasar politik untuk memberikan penilaian. Itu artinya, produk-produk kebudayaan yang pada masa lalu dikambinghitamkan tanpa argumentasi mestinya diberikan ruang pemulihan kembali untuk tampil mengisi khazanah kebudayaan Indonesia. Sebagai contoh yang paling nyata adalah kesenian genjer-genjer.

Kedua, negara melalui otoritas regulasinya semata-mata diletakkan sebagai fasilitator yang menaungi seluruh produk kebudayaan yang muncul dan dikembangbiakkan oleh rakyat. Regulasi negara tidak lagi menjadi mesin pemangkas yang setiap saat menghabisi produk-produk kesenian rakyat. Dalam rangka sebagai fasilitator itu, negara selayaknya menaruh jarak yang sama dengan semua produk kebudayaan rakyat.

Penulis adalah Direktur Pusat Studi dan Pengembangan Kebudayaan (Puspek) Averroes, Malang.

http://www.sinarharapan.co.id/hiburan/budaya/2005/0423/bud2.html

taken from http://www.mail-archive.com/jaker@yahoogroups.com/msg00624.html

Born with wrong body

I have been working in children issues for more than 2 years now. I have been dealing a lot with Child Rights, Child Protection Policy and Laws. There are 4 major points in the child rights, those are child right for survival to live, child right to grow and develop, child right for protection and the last but not the least is child right to participate.

I would like to highlight two articles in Indonesian Child Protection Law No. 23 year 2002.

Pasal 10 (Article 10)

Setiap anak berhak menyatakan dan didengar pendapatnya, menerima, mencari, dan memberikan informasi sesuai dengan tingkat kecerdasan dan usianya demi pengembangan dirinya sesuai dengan nilai-nilai kesusilaan dan kepatutan.

This article corresponds to the Convention on the Rights of the Child article 12 verse 1:

“State Parties shall assure to the child who is capable of forming his or her own views the right to express those views freely in all matters affecting the child, the views of the child being given due weight in accordance with the age and maturity of the child”


Pasal 11 (Article 11)

Setiap anak berhak untuk beristirahat dan memanfaatkan waktu luang, bergaul dengan anak yang sebaya, bermain, berekreasi, dan berkreasi sesuai dengan minat, bakat, dan tingkat kecerdasannya demi pengembangan diri.

This article corresponds to the Convention on the Rights of the Child article 31 verse 1

“State parties recognize the right of the child to rest and leisure, to engage in play and recreational activities appropriate to the age of the child and to participate freely in cultural life and the arts.”

And article 29 verse 1 (a)

1. “State Parties agree that education of the child shall be directed to: (a) the development of the child’s personality, talents and mental and physical abilities to their fullest potential;

Now, you might be wondering of what I am trying to do here. OK, I focused my mind this morning on child right to express his or her views and child rights to develop based on their mental.

This idea came when I watched Oprah Show this morning at 0800 A.M in Star World Channel. The title was born with the wrong sex. So, there are a couple of children who think that they were born in the wrong body. One of the children was born as a girl. As we all know usually girls play with dolls, wear skirts and play with girls. This girl hardly ever did such things. She (he) has been thinking that she (he) was born in the wrong body and started to think of changing her (his) sex. I will now call her as him though I am not sure whether he has changed her sex since I did not finish watching the show.

The other child was born a boy. He keeps saying that he wants to have boops and be like his mummy. I think he’s about 5 or 6 years old (as shown at first in the show). I do not know if he’s now grown up or not. Yet, there is a consultation for this transsexual thing in America. They provide consultants for people thinking or maybe realizing that they were born with the wrong sex.

This might not be a big issue, but what about the parents who have children with this thinking?

What makes these children think that they’re born with wrong sex?

Combined Opposites

I was in Medan for the weekend to meet my wonderful friends who are working for a humanitarian organization which I was working for. We spent the weekend just to be together. We had lunch together, took pictures, and went for a karaoke and clubbing. The next day, we decided to cool down for some so called beauty treatment. My friends went for facial while I went for a body scrub.

I was asked what kind of body mask that I would like to have and I chose full detox. There were three choices and the other two had something to do with whitening which I try so hard to avoid. So, I only had one choice and that was full detox. The woman that took care of me was a bit thin and so soft speaking person. So, I changed into proper clothing that they have prepared for the “ritual”. At first, she asked me to get into a sauna machine before the scrubbing.

So, when it came to the body scrubbing, I was so surprised finding out that this little and soft speaking woman scrub me so well with strong yet gentle and rhythmic movements. In addition to that, I was so soothed with the slow-melodious Sarah Brightman singing and the aromatherapy. More surprisingly, she still could talk to me with her soft and gentle voices. Her tunes of her voice did not change while scrubbing and talking to me in the same time. She worked thoroughly for around an hour of scrubbing. It was strong yet gentle. I could feel the combinations so clearly and so awakening. Then, she asked me to bathe and changed with clean outfits that they have prepared as well.

After I changed then came the massage. Once again, I enjoyed the strong and gentle hands of this small woman. It took another hour for me to enjoy. After the massage, came to the core treatment and that was the detox process. The whole process took approximately 4 hours. I even fell asleep for one or two times. I forgot all of my worries and why I came here. What I remember was the soothing massage, the aromatherapy, Sarah Brightman and the soft and gentle voice of the small lady.

I hardly ever give tips when I came to Salon or restaurants, but since I was so satisfied I decided to give tips to this small lady. It came to my surprise that there’s a sign on the door saying “NO TIPS PLEASE”. Well, well, I guess I have found out a beauty treatment place where I can be darn satisfied without worrying of giving tips.

I have been annoyed actually with this western custom. Because the night we were karakoeing, there was a staff who came into our karaoke room bringing some small warm towels for us. When we’re finished cleaning our hands with the towels, he kept standing there doing nothing. We found out that he was waiting for the tip. In fact, the service that they gave was not like so satisfactory. It was just OK. Nothing’s special about their service. I do not really understand this. Some people can be very clever in doing business; some people are just messing with the customers. I know that I had to spend like 250 thousands for the body scrub, but it’s worthed because I spent 4 hours in there with the services and the full care from the salon staff. The karaoke took around 2 hours and we had to be charged for more than 10,000 just for a bottle of aqua and the room fee itself. It was almost a million for me to be two hours in the karaoke room.

Well, everything has to be paid. If you desire to go karaoke, then pay based on the rate.

I do not really bother about the amount of money but do you get satisfactory?

It’s all about the service and tipping sh*t.