Sunday, October 21, 2007

Mencarimu di bulan Oktober

Bulan Oktober yang katanya akan banyak hujan terbukti di sini. Pagi hari mendung menggayut dan malam diwarnai cucuran airmatanya yang mampu menggoyangkan tubuh kokoh pohon – pohon itu dan menggenangi tatanan jalan.

Anehnya hanya pada siang hari di mana matahari menunjukkan kekuasannya. Menjelang sore sang mendung mengambil lagi keceriaan dan ketegaran sang matahari.

Di setiap hampir akhir bulan Oktober, sang pertapa menitikkan air matanya entah kenapa. Tidak perlu sebenarnya tapi jari – jari itu menari ingin menunjukkan kehadiran dan keingintahuan.

Tidah harus begitu sebenarnya. Tapi sang alam mengingatkannya. Selalu ada jam weker di hampir akhir bulan Oktober itu. Hampir sang pertapa lupa, tapi mungkin itu hanya kerikil pengingat saja yang seharusnya tidak dirasakan.

Tapi musik itu tetap mengalun loh, tetap ada di kotak ajaib itu. Kotak yang menyimpan angka – angka dan musik – musik.

Mendapatimu di bulan Oktober ini dengan satu kata saja. Satu kata saja. Biasa aja sih tapi kata orang – orang bijak, jangan mencoba atau kau akan meminta lagi dan lagi.

Kata mereka hanya ada hitam atau putih, tapi kata mereka yang lain harus ada abu – abu dan ke kanan dan ke kiri.

Selalu mendapatimu di bulan Oktober. Selalu mendapatimu selangkah lebih di atas.

Selalu mencarimu di bulan Oktober. Selalu mendapati diri selangkah mundur teratur.

Tidak terpuruk sekarang. Sekarang berdiri tegak dan melangkah mundur.

Tidak karena dirimu tapi semua ini karena diri dan Dia.

Tidak salah dan tidak benar.

Dan jawabannya hampir ada untuk diri.

Happy Birthday