Saturday, August 04, 2007
Mulai lagi
Jari – jari kurus itu mulai melompat – lompat lagi Pikiran itu mulai menari – nari lagi Tak ada lagi perbincangan panjang Kedua mata sayu meredup itu mulai tidak bisa berkompromi dengan dinginnya malam Tubuh itu mulai mengkisut Perut itu makin menjulang Nyanyian tanpa syair mulai sering didendangkan dari mulut mengeringnya Apa yang menggerakkan tubuh itu Apa yang menggerakkan jari – jari itu Mulut – mulut itu mulai berdebat Otak – otak itu mulai mencari celah Emosi – emosi itu meledak – ledak, berkelebat – kelebat mengeluarkan liur nafsu ingin menang Hati itu mulai menangis Jantung itu mulai berdegup kencang Langkah – langkah kaki makin cepat Harapan itu makin besar Gemerincing uang semakin terdengar Kepercayaan diri itu mulai timbul Ramai bus – bus kota dan angkutan – angkutan lainnya makin nyata Jam – jam dinding mulai tampak bergerak semakin cepat Laju mesin – mesin itu tampak tersedak – sedak Namun sang gunung tetap berdiri Sang laut tetap mempersembahkan tarian ombaknya yang indah Sang danau tetap menunjukkan ketenangannya Sang Resi tetap di sana memegang tongkatnya Sang Batara tetap memandang ke bawah mengulurkan tangan lembutnya Sang Nini tetap di sana berjaga – jaga walau terkadang terkekeh mengejek Sang Rama tetap tak kembali entah di mana Lalu sang pertapapun melanjutkan tapanya
Subscribe to:
Post Comments (Atom)

No comments:
Post a Comment