Jari – jari kurus itu mulai melompat – lompat lagi
Pikiran itu mulai menari – nari lagi
Tak ada lagi perbincangan panjang
Kedua mata sayu meredup itu mulai tidak bisa berkompromi dengan dinginnya malam
Tubuh itu mulai mengkisut
Perut itu makin menjulang
Nyanyian tanpa syair mulai sering didendangkan dari mulut mengeringnya
Apa yang menggerakkan tubuh itu
Apa yang menggerakkan jari – jari itu
Mulut – mulut itu mulai berdebat
Otak – otak itu mulai mencari celah
Emosi – emosi itu meledak – ledak, berkelebat – kelebat mengeluarkan liur nafsu ingin menang
Hati itu mulai menangis
Jantung itu mulai berdegup kencang
Langkah – langkah kaki makin cepat
Harapan itu makin besar
Gemerincing uang semakin terdengar
Kepercayaan diri itu mulai timbul
Ramai bus – bus kota dan angkutan – angkutan lainnya makin nyata
Jam – jam dinding mulai tampak bergerak semakin cepat
Laju mesin – mesin itu tampak tersedak – sedak
Namun sang gunung tetap berdiri
Sang laut tetap mempersembahkan tarian ombaknya yang indah
Sang danau tetap menunjukkan ketenangannya
Sang Resi tetap di sana memegang tongkatnya
Sang Batara tetap memandang ke bawah mengulurkan tangan lembutnya
Sang Nini tetap di sana berjaga – jaga walau terkadang terkekeh mengejek
Sang Rama tetap tak kembali entah di mana
Lalu sang pertapapun melanjutkan tapanya
Wednesday, July 18, 2007
Subscribe to:
Post Comments (Atom)

No comments:
Post a Comment