Kuraih alat itu dengan cepat dan tergesa – gesa dan segera aku berdiri di tempat di mana banyak orang mengira aku tidak akan berada di situ. Aku tak ada kesempatan lagi untuk tersenyum ataupun memandang wajah – wajah pengguna high heels itu. Pletak .. pletak ... pletak .. demikian suara sepatu – sepatu itu. Buru – buru mereka masuk ke ruangan kerjaku. Mereka tidak memperhatikan kalau aku ada berdiri di belakang pintu yang mereka dorong dengan sepenuh tenaga. Segera mereka berdiri di belakang orang – orang yang sudah berdiri di depan pintu itu menunggu giliran.
Segera setelah pintu itu terbuka, segera orang itu masuk, tapi aku telah mendahului mereka dengan benda di tanganku. Kuseka air di dalam ruangan sempit itu sebelum orang yang sudah berdiri di depan pintu itu masuk. Tak kuperdulikan wajah – wajah tak sabar itu. Tak kuperdulikan lagi orang – orang yang tetap berhamburan masuk menghela pintu keras - keras atau orang – orang dengan senyum puas memandang wajahnya di cermin sebelum mereka keluar dan membanting pintu. Bam! Pletak ... Pletak .. Pletak .. Bam! Pletak .. Pletak ... Pletak .....Bam!
Buru – buru aku membuka pintu itu. Berderet perempuan – perempuan menekuk tangan di dadanya, mengantri untuk hal yang sama. Aku tahan rasa itu, aku tahan dan aku tahan hingga saatnya aku berdiri paling depan dan pintu itu terbuka, segera aku memasukinya tanpa menengok ke kanan dan ke kiri. Suuuuurrrrr ..... aaaaahhhhhh ..... lega!!!!
Kuraih pinggang berlemak itu dan kutatap mata berhiaskan biru dan hitam dan lalu kubelai rambut rebonding sepinggang itu. Aku lihat cinta di kedua mata itu. Jari – jemari montoknya berlari – lari memilih – milih film terbaru dari deretan DVD di kaki lima itu. Kucoba menemaninya memilih sambil bercanda. Lelah berdiri aku pun beranjak dari sisinya dan mulai duduk di kursi yang disediakan di pinggir jalan itu. Ku hempaskan pantatku dan kulemparkan pandanganku ke sebelah kananku. Dua wanita berbaju hitam. Salah satunya seorang wanita berkacamata dengan rambut sebahu yang bondingnya berumur sekitar 1 bulan. Keriwilan – keriwilan kecil mulai melingkar di rambutnya. Disampingnya adalah seorang wanita berkulit putih mulus yang tidak lebih tinggi dari perempuan itu, bahkan lebih pendek, dengan celana jeans ketat dan make up natural.
Sangat menarik, tanpa aku sadar aku menatapnya terus tanpa sadar bahwa perempuanku masih sibuk dengan memilih DVD. Sekali – kali aku lempar pandanganku ke kiri untuk memastikan bahwa perempuanku tidak memergokiku memandangi perempuan mulus itu. Pikiranku pun melayang .... aaaahhhhh .... cantik sekali. Lihat badannya, sangat ramping dengan sepatu hak tinggi yang sangat serasi dengan rambut keoklatannya.
Oooppss .... ibu perempuanku duduk di sebelahku.
Lensa kamera itupun bergerak maju mundur .. mengincar seorang laki – laki botak duduk di pinggir jalan. Dia sibuk menatap perempuan – perempuan yang hilir mudik tanpa lupa untuk mengembalikan pandangannya ke perempuannya. Perempuan montok dengan make-up biru hitam. Laki – laki itu sibuk menyeka mulutnya (mungkin dia menyeka air liurnya) dan mengusap kepala botaknya sembari menengok ke kanan dan ke kiri. Saat tersadar bahwa ada seorang perempuan tua duduk di sebelah kirinya, mulailah ia berbicara dengan perempuan itu sambil sekali – kali mencuri pandang ke kanan.
Phheeewww!!!!! Boys are boys and they stay to be boys ....
But if they are not in the age of boys, what do we call them?

No comments:
Post a Comment